Apa boleh dikata, Dee memang seorang yang mendedikasikan waktunya untuk melukiskan fenomena dalam indahnya tulisan dan nada-nada. Recto Verso, karya terkini nya menjadi sebuah pioneer duet maut karya sastra dan irama. Terobosan memadukan sebuah buku kumpulan 11 cerpen yang mengejahwantahkan 11 lagu dalam album yang diberi tajuk Recto Verso.
Rectoverso-pengistilahan untuk dua citra yang seolah terpisah tapi sesungguhnya satu kesatuan, demikian ujar Dee. Berisi 11 cerpen dan lagu yang mengisahkan roman yang saling mengisi namun tak selalu memiliki. Dengar fiksinya, Baca Musiknya…tentunya ini adalah pengalaman baru bagi penikmat karya seni.
Saya bilang sih, Dee bisa memenuhi celah kosong fiksi romantis yang tidak cengeng, tidak hanya mengagungkan sisi feminisme semata, yang perasa …namun secara logis bisa diterima akal dalam benturan fakta-fakta kehidupan (bahkan di dalam cerpen nya yang berjudul Firasat)
Dibuka dengan “Curhat Buat Sahabat”, bercerita tentang seorang sahabat yang selalu setia mendengar, hadir, dan berkorban. Ingin untuk memenuhi dan menjadi bagian. Kali ini dia (sekali lagi) mendengarkan curhat sahabatnya yang tengah membuat harapan baru, yang tak lagi muluk, untuk diam menantikan seorang biasa saja dengan segelas air ditangannya, kala terbaring sakit. Yang sudi dekat, mendekap tangan, mencari teduh dalam mata dan berbisik “Pandang aku, kau tak sendiri”.. Sederhana dan jujur bukan ?
“Malaikat Juga Tahu” adalah nada kedua. Persahabatan yang aneh kalau dilihat… seorang perempuan yang tak pernah lelah menemani pria 38 tahun namun menyimpan mental anak 4 tahun. Sampai suatu ketika Abang—demikian sebutan pria autis ini mulai mencoretkan perasaannya dalam kata-kata tak beraturan dalam sebuah surat cinta. Konflik pun memuncak ketika adik si Abang pulang dari perantauannya menimba ilmu di luar negeri, seorang yang tampan dan sempurna. Persahabatan Abang dan si perempuan ini seharusnya tak akan pernah berakhir jikalau tak ada surat cinta, jikalau si adik tidak datang. Namun…aaah…lagi-lagi Dee menggambarkan suaru realita yang logis. Untuk apa setia pada persahabatan pria autis kalau ada pria yang lebih rupawan. Perempuan muda itu menjatuhkan pilihan, bahwa dirinya bukan malaikat yang tahu siapa yang lebih mencintai siapa dan untuk berapa lama. Tak pernah tahu siapa yang akan jadi juaranya .
Pilihan ketiga jatuh pada kisah ”Selamat Ulang tahun” yang tak pernah diucapkan. Penantian seorang perempuan, mengharapkan kalimat sederhana yang diucapkan entah langsung, entah lewat telpon, atau entah dirangkai dalam kalimat manis SMS… Ditengah jaman modern telekomunikasi yang serba seluler, ucapan itu dinantikan menit ke menit, jam ke jam, namun tak kunjung tiba tepat waktunya. Dee bisa menangkap romantisme yang diharapkan perempuan kini bukanlah sekuntum bunga dari Romeo kepada Julliete nya, tapi sebuah pesan singkat (SMS) dengan biaya murah yang dihantarkan tepat waktu.
Menaiki tangga keempat, Dee mulai complicated dalam cerpen ”Aku Ada”. Rasa memiliki yang terpisahkan batas dua dunia. Menggambarkan secara lugas perasaan kehilangan namun selalu terpatri dalam kehadiran. Merasionalkan sesuatu yang irasional, namun Dee berhasil melakukannya di sesi ini.
Bagian kelima ini mungkin salah satu kisah favoritku.”Hanya Isyarat” tittle yang disematkan oleh Dee. Intro situasi cafe pinggiran dengan nuansa persahabatan yang mahfum, kental sekali bagi orang kebanyakan. Namun disinilah disipkan romantisme yang bermakna dalam, dengan kisah punggung ayam yang menyentuh. Kegetiran seseorang yang paling bersedih karena mengetahui apa yang tak sanggup ia miliki. Mengembalikan situasi yang menyentil hati kembali dalam kerlap kerlip hidup ditengah keremangan yang tidak romantis.
”Peluk” salah satu identitas kasih sayang dikemas Dee dalam alur cerita antiklimaks yang menarik pada bagian keenam. Pertengkaran sepasang kekasih yang biasanya syarat dengan adu argumentasi dalam kecamuk jiwa justru dilukiskan Dee secara wajar, tidak berlebihan, dan justru jadi hidup. Kemarahan dan kata-kata yang dibungkam dalam satu pelukan diam mendamaikan, meski peluk itupun tak menyembuhkan apa-apa.
Mencoba menampilkan Cerpen dalam bahasa Inggris, Dee berhasil menghidupkan ”Grow a day Older” dalam setiap detail yang ia buat. Digambarkannya bagaimana seorang perempuan yang tengah desperate in Love mempersiapkan kado ulang tahun sekaligus kado perpisahan kepada seseorang yang begitu ia cintai dan telah memberikannya kenangan ”10 hours magic” semalam sebelumnya. Kadang ada pertemuan yang tak terelakkan, berubah menjadi indah. Namun perpisahan yang tak diinginkan pun juga bisa menjadi indah. Lalu buat apa kita khawatir?
Sesi Delapan salah satu favoritku, karena menurutku punya makna yang dalam. ”Cicak di Dinding” merupakan sebuah totalitas impian berbahagia dalam pasrah ketidakberdayaan. Seorang seniman lukis yang jatuh cinta sekaligus patah hati pada pandangan pertama. Dia tak mampu dan tak mungkin meraih hati perempuan yang ternyata akan segera menikah dengan sahabatnya yang adalah seorang kurator. Dipersembahkanlah cintanya dalam bentuk goresan-goresan kuas cicak di dinding yang akan hanya bsia bersuara dan menatap utk menemani perempuan — cinta dan patah hatinya–.Tak akan pernah meraih tapi meninggalkan cicak yang akan menjaga dan mengagumi nya. Sesuatu yang menurutku Dee sangat fair untuk menilai sikap gentlemen dalam gambaran sang pelukis.
(bersambung….atau aah….baca deh Bukunya, masih ada cerpen Firasat, Tidur, dan Back to Heavens Light)
No Comments Yet
No comments yet.
Comments RSS TrackBack Identifier URI
Leave a comment
