Dalam sebuah diskusi kecil marketing dengan teman-teman Blitarians, kita sedang membahas bagaimana perang media Out of Home, perang ATL di bisnis telekomunikasi Indonesia yang saling berbalas ibarat pantun. Penggunaan Media televisi, radio, Billboard secara gencar diharapkan bisa segera membentuk persepsi dari konsumen.
Tapi kemudian satu pertanyaan muncul, sebenarnya bagaiaman sih konsumen meresponnya ? apakah serta merta banjir ATL dan OOH akan memberikan preferensi bagi mereka untuk memutuskan membeli sebuah produk ?
Nyatanya, sebagian besar konsumen membeli produk karena preferensi dari orang lain !, sebagaian saja yang membeli produk karena teredukasi dengan baik melalui ATL atau OOH.
Ya, sejak kecil saya pakai pasta gigi merk pepsodent karena orang tua saya pakai pepsodent. Motor perttama saya Honda, karena dengar-dengar dari teman Honda lebih irit BBM dari merk yang lain. Anak Muda / pelajar menggunakan kartu GSM IM3 karena kebanyakan remaja yg lain menggunakan dan mereferensikan IM3 sebagai kartunya anak muda / pelajar. Word of Mouth cenderung memberikan preferensi testimonial yang dipercaya dari orang dekat disekitar kita. Impact dari WOM ini sangat kuat, bahkan lebih kuat dari ATL yang gencar sekalipun.
WOM pada akhirnya sangat lekat dengan emosional ketimbang rasional. Sebuah produk akhirnya dipilih karena ikatan emosi, walaupun sudah bergeser dari faktanya. Lihat saja iklan testimony Rinso. “Kalau nggak Kotor nggak Kreatif”. Iklan ini mengisahkan sekelompok anak yg bermain Lumpur, hujan-hujan…namun orang tuanya tidak khawatir karena pakaiannya akan bersih kembali berkat Rinso. Nah, kenyataannya lantas apakah si anak akan benar-benar menjaadi kreatif dan bajunya benar-benar menjadi kembali putih cemerlang melebihi warna asli nya ? Haha…
Tanpa menafikan arti ATL, Word of Mouth sampai saat ini masih menjadi senjata marketing yang handal.
No Comments Yet
No comments yet.
Comments RSS TrackBack Identifier URI
Leave a comment
