Strategi Pemasaran Pengamen Bis (Catatan Perjalanan)*

Siang ini ketika kembali ke kota Tulungagung untuk persiapan event promosi aku sengaja memilih bis antar kota sebagai sarana transportasi yang murah, bukan Travel sebagaimana biasanya.

Maksud hati beristirahat di dalam bis, agar sore & malam harinya masih tetap fit dalam event promosi. Apa daya, yang namanya bis ekonomi selalu menjadi sasaran empuk bagi para penjaja kaki lima untuk menawarkan dagangan mereka. Ada yang jual kue, majalah, koran, es, permen, air mineral, sofdrink, dll. Maklum…penumpang bis adalah market potensial dengan daya beli yang cukup untuk ukuran kantong (dompet) orang yang bepergian antar kota

Ketika dalam perjalanan, penumpang dihibur dengan musik khas akustik jalanan oleh pengamen yang mengatasnamakan demi mencari uang daripada mencuri ayam. Setiap pemberhentian, silih berganti pengamen naik-turun dan terus menghibur para penumpang…walaupun bagi sebagian orang (termasuk aku waktu itu) merasa terganggu.

Tiba-tiba aku tergelitik oleh salah seorang pengamen ketika bis baru berjalan 15 menit. Berambut ikal tak terawat, kulit hitam, baju sedikit lusuh, bermodal gitar ala kadarnya dan suara serak dia melantunkan lagu demi lagu. Sesekali dimainkannya bait-bait lagu khas pengamen yang sengaja menyindir para penumpang…

“Seratus-dua ratus saya terima, Lima ratus-Seribu Alhamdulillah, Terus terang Pak..Bu..saya mengamen untuk mencari tambahan uang sarapan daripada saya nyolong ayam digebuki masa dan ditahan 6 bulan” demikian kira-kira terjemahan lagu yg sebenarnya dinyanyikan dalam bahasa Jawa.

“Yang ngasih tak doakan banyak rejeki dan lekas naik haji, yang pura-pura tidur tak doakan selamat, yang nggak ngasih juga tak doakan selamat….tapi mbok ya ngsih…Kok tega ngelihat suaraku serak trus nggak ngasih…” lanjut bait berikutnya.

Setelah tuntas melakukan konser kecilnya, seperti ritual sanga pengamen mengeluarkan kantung kecil dan mulai bergerilya menampung koin recehan pemberian penumpang. Sembari menyodorkan kantung, tak henti-hentinya bibir hitam pengamen tersebut melontarkan kalimat-kalimat sindiran…
“Yang ngaku dermawan silahkan bersedekah, yang pura-pura tertidur semoga tergugah, yang tak memberi tolong carikan supaya bisa memberi…”

Tampangnya memang seram, tapi diua berusaha mengucapkan kalimat demi kalimat sejenaka mungkin…dan alhasil hampir 90% seisi bis memberikan sedekah kepada si pengamen…

Oalah…bahkan seorang pengamen pun melakukan spoken marketing dengan menyentuh sisi ego (emosional) calon mangsanya….

*) Dinukil dari catatan tahun 2007

No Comments Yet

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a comment